Ada beberapa hal di dunia ini yg memang tidak ahrus kita mengerti. Kenapa orang Indonesia ga bosen makan nasi tiap hari? Kenapa kita dikotak-kotakkan? Entah SARA, keahlian, dan gender. Kalian pernah mikir gitu kan. Jujur aku pernah, dan setiap tanya berawalan "Kenapa" muncul pada detik itu juga gue berhenti mikir kenapa. Bahkan soal cinta.
Misteri-misteri yg akan selalu membuat gue, elu, kita manusia penasaran. Dan, pada kadarnya penasaran bisa membuat seseorang sakit jiwa. Karena terlalu ingin tau apa yg jadi rahasia Tuhan. Sewajarnya manusia berpasrah kepada Penciptanya ketika berusaha sudah dilakukan. Pasrah. Jangan salah, pasrah itu bukan diam menunggu keajaiban datang dengan sendirinya. Pasrah dilakukan setelah kamu berusaha dengan maksimal. Setelah semua usaha dilakukan dengan maksimal, kita pasrah dengan keputusan Tuhan; Jasmani dan Rohani. Semeleh.
Ya, memang berkata-kata itu mudah melakukan dengan baik dan benar yg susah. Sampai akhirnya banyak motivator dadakan ketika temannya susah. "Apakah sang motivator kitaini tidak bercermin diri?", pikir temannya. Terlalu banyak orang yg banyak cakap menasehati yg lain namun tak cakap mengurus kehidupannya sendiri. Walaupun sebenarnya kita tidak perlu melihat siapa yg berbicara, namun apa isi yg dibicarakan. Apalah daya manusia adalah makhluk visual.
Kebanyakan dari kita percaya bahwa ketika kita mendapat musibah, itu adalah ujian dari Tuhan. Benarkah ujian? Yakin itu bukan azab atau sejenisnya. Pernyataan ini benar-benar menampar keras kesadaran saya. Benar yg diucapkan kawan lama saya, "Wong sekolah ga pernah dateng kok mau ngumpulin tugas. Ya esai lu dibuang lah sama gurunya." Maksud dari pernyataanya adalah kita terlalu pada sunnah apa yg harus dilakukan esok, tetapi kewajiban kita terbengkalai. Masih yakin kamu ikut ujian? Bukan hukuman dari Allah? Wallahu A'lam.
No comments:
Post a Comment