5 September 2011
Seseorang seperti aku memang bukan manusia yang tidak
beruntung atau apapun yang buruk. Hanya terkadang menjalani sebagai seorang
dewasa itu berat. Itu jika kita tidak mensyukuri nikmat tuhan. Sekecil apapun
nikmat tuhan itu. Aku termasuk orang yang beruntung. Hidupku cukup, barang yang
ku inginkan dapat aku miliki walaupun aku mendapatkannya agak lama.
Pendidikan. Inilah salah satu problema hidup kita. Kata
seorang yang (sangat) berpengaruh dalam hidupku berkata, “Anak sekarang kalau
tidak bisa melanjutkan kuliah yang disalahkan orang tuanya.” Saya pikir itu
benar walau sebenarnya tidak semua pemuda di negeri ini berpikiran seperti itu.
Terkadang saya menuntut lebih pada orang tua saya, terkadang
saya mengerti. Begitulah, karena memang saya adalah remaja labil masa kini.
Terkadang saya merasa dituntut ini itu. Padahal saya tahu remaja hanya ingin
dimengerti, bebas.
Do you agree with me? Aku anak berusia 17 tahun. Hobiku hanya
membaca. Aku benar-benar dituntut untuk dewasa. Tapi aku tak tahu apa pengertian
dari dewasa. Benar-benar tidak tahu. Aku pikir menjjadi anak-anak adalah hal
paling menyenangkan. Apapun yang mereka lakukan tak pernah salah di mata orang
dewasa. Begitu mengasyikan. Tapi aku tumbuh, sekarang bukan lagi saatnya
memikirkan betapa asyiknya dunia anak-anak. Saat ini begitu banyak tanggung
jawab. Tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang tua. Bagaimana masa depanku?
Apa balasan untuk mereka yang berjasa dalam hidupku? Untuk mereka yang telah
membesarkan aku?
Aku tidak bisa jadi manusia rata-rata. Aku harus beda. Lebih
unggul, lebih baik dalam segala hal. Aku tidak bisa jadi biasa-biasa saja. Aku
bisa terjatuh, terinjak kemudian hilang. Aku tak mau jadi orang yang tak
berguna. Aku harus sukses. Open mind and positive thinking!!
Koniciwa!! Tadi a.da kejadian lucu ih,,,masak iia kita dada
ja iia,,,lucu,,
Gitu ja sebel,,gitu ja aku juga ikut bingung.
Ya dia dan saya memang bukan siapa”. Kitapun ada komitmen
selama SMA tidak pacaran. Setelah lulus? Tak ada komitmen atau perjanjian untk
pacaran. Karena sebenarnya aku tidak bisa pacaran. Selain karena syariat alasan
utama adalah saya tidak mau. Kalau mau dikatakan sekedar teman aku piker lebih
dari itu. Munkin hubungan tanpa status. Ya kita bebas ingin dengn siapapun.
Kejadian kemarin menyadarkanku bahwa aku sayang dia. Aku mau
kita punya hubungan tapi aku juga masih sangat ingin bebas. Aku tidak suka
terikat.
Bagaimana dengan dia? Samakah denganku?
7 September 2011
Sesuatu terjadi padaku!!! Bukankah
aku sudah taubat? Aku benar –benar berdosa. Seharusnya aku bisa
mengendalikannya. Pakai akal sehatmu! Jangan seperti binatang.
Manusia memang paling tinggi
drajatnya. Karena itulah tanggung jawab manusia lebih berat dibanding makhluk
lainnya. Tanggung jawab dunia dan akhirat.
Haha gue sering ngomong sendiri
saat gue sendirian dirumah. Tepatnya si bukan ngomong sendiri, ngomong sama
makhluk-makhluk yang gue yakin ada di sekitar gue. Daripada gue yang di ganggu,
mending gue ajak ngobrol ja. Walau gue ga tau mereka jawab pa.
“Tau g aku suka sama umi uda lama?
Uda dari dl umi,,hey sini donk, jgn
ditutup,,” aku kan lagi pake helm. “ Mau jadi pacarku?” Aku bingung, bukan
mikirin mau jawab apa tapi konsekuensi lain di balik keputusanku.
Aku g mau semua berubah. Disadari atau
tidak dia sandaranku, yang kedua. Jika aku tolak aku yakin dia berubah walau
dia bilang dia tidak akn berubah, masi sama seperti dulu.
Saat ini kita resmi pacaran. Aku g
tau gimana nanti setelah putus. Saia harap masi sama, walaupun g 100%.
Bersusah dahulu bersenang kemudian.
Ya tentu saja. Di dunia ini mana ada yang gratis. G nyesel dari kemarin capek
bgt, tangan sampe lecet semua. Sorenya bole keluar juga. Seneng j.
Ngejus gratis, jalan-jalan gratis, ngobrol nyambung J
Thanks for today J
No comments:
Post a Comment